Mereka yang benci kepada kita (muslim) sudah punya lebih
dari segudang strategi untuk mengahancurkan rumah (Islam) hingga luluh lantah
rata dengan tanah, sedangkan kita yang hidup sebagai saudara dan satu keluarga
tinggal serumah pula, masih saja meributkan mana menu makanan FURU'IYAH ysng
BENAR untuk kesehatan dan saling klaim bahwa kamar masing-masing yang paling
BENAR untuk meninabobokkan dalam kenyamanan (surga) dihari mendatang.
Saya menghela nafas panjang dan mengelus dada, se-EGOIS
itukah kita sebagai keluarga, sekejam itukah kita terhadap sesama saudara.
Padahal seingat saya tetua kita sang kepala keluarga, Muhammad, yang dulu
bersusah payah -bahkan rela terusir dari tanah kelahirannya- membangun rumah
dan keluarga ini berpesan dengan tegas المؤمن أخ المؤمن "sesama muslim adalah saudara".
Tidakkah seharusnya kita yang tinggal satu atap bahu membahu
menghadang dan melawan serangan ribuan kavaleri pasukan yang siap menghantam
dan meratakan dengan rumah kita dengan tanah, dan saya rasa kalau hanya dengan
meratakan dengan tanah mereka masih tidak akan puas, lebih tepatnya menimbun
rumah kita dan kita yang ada didalamnya kedalam tanah tanpa batu nisan
diatasnya.
Huuuft.. Lagi-lagi saya dipaksa untuk menghela nafas panjang
dan mengelus dada. Berusaha menenangkan diri seakan ada mahluk kecil yang saya
sendiri tak tahu bagaimana wujudnya, tapi yang pasti dia selalu menimbulkan
kegelisahan saat saya memikirkan rumah indah kita, warisan dari Manusia paling
mulia "al Basyar Laa Kalbasyar" yang akan luluh lantah jika kita
semua sebagai penghuninya masih saja bersikap seperti yang telah saya ceritakan
kepada pembaca sekalian.
Andaisaja kita sesama saudara muslim bisa saling
menghormati, menghargai dan saling bertoleransi. Membuang jauh sifat egois,
klaim kebenaran, keinginan untuk masuk surga sendiri dengan mengkafirkan dan
menhalalkan darah sesama saudara kita yang tidak sepaham dengan menggunakan
cara "BOM bunuh" diri dan semacamnya, maka agaknya saya akan merasa
lega dan saya tidak harus lagi menghela nafas panjang dan mengelus dada seperti
biasanya.
.
Dibawah pohon rindang FIB UI Depok, 17 Januari 2016, menulis
sambil berulangkali menghela nafas dan mengelus dada.
Aminuddin Hamid
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung di Blog kami