Minggu, 20 Maret 2016

Persamaan Mubtada' dan Khobar dengan Subject dan PV dalam Grammatika Bahasa Belanda

Sebagaimana dalam kaidah bahasa Arab yang dulu sempat saya pelajari ketika masih berada dilingkungan pesantren, saya menemukan istilah "mubtada'" dan "khobar" yang–setidaknya menurut saya–mempunyai beberapa kesamaan dengan istilah "Subject" dan "PV" (persoonvorm) dalam grammatika bahasa Belanda.

Baik mubtada’ dan khobar maupun subject dan PV adalah pasangan yang mempunyai peranan sangat penting dalam susunan kalimat pada masing-masing aturan grammatika bahasa. Mubtada’ selalu membutuhkan khobar untuk melengkapi eksistensinya dalam sebuah kalimat sehingga sebuah kalimat menjadi kalimat yang sempurna. Begitu juga subject, dia selalu membutuhkan PV untuk membentuk struktur kalimat yang benar. Meskipun mubtada’ tidak selalu bergandengan bersama dengan khobar sebagaimana kaidah dasar subject dan pv yang selalu selalu berdampingan.

Dalam bahasa Arab terdapat sebuah istilah yang ditujukan bagi sebuah susunan pola kalimat, yakni khobar muqoddam (khobar yang didahulakan) dan mubtada’ muakhor (mubtada’ yang diahirkan), kaidah tersebut juga terdapat dalam grammatika bahasa belanda yang biasa disebut dengan pola inversi. Subject yang lazimnya–dalam susunan kalimat sederhana–selalu didahulukan akan tetapi ketika yang menjadi permulaan sebuah kalimat adalah kata keterangan (termasuk bagian dari sitilah de rest), maka subject terpaksa harus bergeser kebelakang PV dan secara otomatis PV berada didepannya. Meskipun demikian dalam susunan inversi, subject dan pv tetap selalu berdampingan mesra bersama dan tidak boleh dipisahkan oleh kata atau kalimat lain.

Begitu pula jika dalam kaidah grammatika bahasa Arab, keharmonisan mubtada’ khobar bisa dan seringkali diganggu oleh oknum-oknum tertentu seperti kaana, inna, dhonna waakhowatuhum; Dalam tatanan subject dan PV pun hal yang demikian juga terjadi. Keharmonisan kebersamaan keduanya seringkali rusak disebabkan seperti kata omdat dan sejenisnya (nadat, zodat, daarna dll.). Akan tetapi jika dalam bahasa arab, keharmonisan mubtada’ dan khobar ketika diganggu oleh oknum-oknum yang telah saya sebut tadi, dampaknya hanya berpengaruh kepada perubahan bunyi-harokah-ahir sebuah kata, berbeda halnya dampak atau efek yang ditimbulkan oleh omdat wa akhowatuha yang mengaharuskan subject dan PV dipisahkan. PV harus ditempatkan diujung ahir sebuah kalimat dan anatar keduanya harus dipisah oleh berbaris-baris kata jika tidak ada preposisi dalam kalimat tersebut.

Dua hal itulah yang menjadi kesamaan–lagi-lagi menurut saya–antara mubtada’ dan khobar dalam grammatika bahasa Arab dengan subject dan PV dalam grammatika bahasa Belanda. Tetapi tidak menutup kemungkinan masih ada banyak kesamaan lagi selain dua hal diatas atau bahkan ketika dikaji secara lebih mendalam ternyata tidak ada kesamaan diantara keduanya dan keduanya tidak bisa disamakan, karena kesamaan tersebut hanyalah sekedar analisa subjektif saya yang tentunya terbatas oleh kapasitas pengetahuan saya yang masih perlu belajar lebih banyak. Dan ilmu pengetahuan–termasuk bidang linguistik–tidaklah sesuatu yang statis, dia akan terus berkembang sehinga memunculkna pengetahun-pengetahuan baru dikemudian hari.

1 komentar:

  1. adakah contoh dari pnerapan pemahaman link d atas c'amin...
    ktika PV kmasukan nadat dll itu kyag gmn...

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung di Blog kami