Sebagaimana dalam kaidah bahasa Arab yang dulu sempat saya
pelajari ketika masih berada dilingkungan pesantren, saya menemukan istilah
"mubtada'" dan "khobar" yang–setidaknya menurut saya–mempunyai
beberapa kesamaan dengan istilah "Subject" dan "PV"
(persoonvorm) dalam grammatika bahasa Belanda.
Baik mubtada’ dan khobar maupun subject dan PV adalah pasangan yang mempunyai peranan sangat penting dalam susunan kalimat pada masing-masing aturan grammatika bahasa. Mubtada’ selalu membutuhkan khobar untuk melengkapi eksistensinya dalam sebuah kalimat sehingga sebuah kalimat menjadi kalimat yang sempurna. Begitu juga subject, dia selalu membutuhkan PV untuk membentuk struktur kalimat yang benar. Meskipun mubtada’ tidak selalu bergandengan bersama dengan khobar sebagaimana kaidah dasar subject dan pv yang selalu selalu berdampingan.
Dalam bahasa Arab terdapat
sebuah istilah yang ditujukan bagi sebuah susunan pola kalimat, yakni khobar
muqoddam (khobar yang didahulakan) dan mubtada’ muakhor (mubtada’ yang
diahirkan), kaidah tersebut juga terdapat dalam grammatika bahasa belanda yang
biasa disebut dengan pola inversi. Subject yang lazimnya–dalam susunan kalimat
sederhana–selalu didahulukan akan tetapi ketika yang menjadi permulaan sebuah
kalimat adalah kata keterangan (termasuk bagian dari sitilah de rest), maka
subject terpaksa harus bergeser kebelakang PV dan secara otomatis PV berada
didepannya. Meskipun demikian dalam susunan inversi, subject dan pv tetap
selalu berdampingan mesra bersama dan tidak boleh dipisahkan oleh kata atau
kalimat lain.
Begitu pula jika dalam kaidah
grammatika bahasa Arab, keharmonisan mubtada’ khobar bisa dan seringkali
diganggu oleh oknum-oknum tertentu seperti kaana, inna, dhonna waakhowatuhum;
Dalam tatanan subject dan PV pun hal yang demikian juga terjadi. Keharmonisan
kebersamaan keduanya seringkali rusak disebabkan seperti kata omdat dan
sejenisnya (nadat, zodat, daarna dll.). Akan tetapi jika dalam bahasa arab,
keharmonisan mubtada’ dan khobar ketika diganggu oleh oknum-oknum yang telah
saya sebut tadi, dampaknya hanya berpengaruh kepada perubahan
bunyi-harokah-ahir sebuah kata, berbeda halnya dampak atau efek yang
ditimbulkan oleh omdat wa akhowatuha yang mengaharuskan subject dan PV
dipisahkan. PV harus ditempatkan diujung ahir sebuah kalimat dan anatar
keduanya harus dipisah oleh berbaris-baris kata jika tidak ada preposisi dalam
kalimat tersebut.
Dua hal itulah yang menjadi
kesamaan–lagi-lagi menurut saya–antara mubtada’ dan khobar dalam grammatika
bahasa Arab dengan subject dan PV dalam grammatika bahasa Belanda. Tetapi tidak
menutup kemungkinan masih ada banyak kesamaan lagi selain dua hal diatas atau
bahkan ketika dikaji secara lebih mendalam ternyata tidak ada kesamaan diantara
keduanya dan keduanya tidak bisa disamakan, karena kesamaan tersebut hanyalah
sekedar analisa subjektif saya yang tentunya terbatas oleh kapasitas
pengetahuan saya yang masih perlu belajar lebih banyak. Dan ilmu pengetahuan–termasuk
bidang linguistik–tidaklah sesuatu yang statis, dia akan terus berkembang
sehinga memunculkna pengetahun-pengetahuan baru dikemudian hari.
adakah contoh dari pnerapan pemahaman link d atas c'amin...
BalasHapusktika PV kmasukan nadat dll itu kyag gmn...